MANFAAT HUTAN MANGROVE JENU TUBAN DARI SISI PENILAIAN EKONOMI

Paper Matakuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan                                                         Medan, 5 Mei 2021

MANFAAT HUTAN MANGROVE JENU TUBAN DARI SISI PENILAIAN EKONOMI

Dosen Penanggungjawab :

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

Oleh :

Gopin Sahputra Pasaribu

191201047

HUT 4C

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021





KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Paper Matakuliah Ekonomi Sumber Daya Hutan yang berjudul “Manfaat Hutan Mangrove Jenu Tuban dari Sisi Penilaian Ekonomi” ini yang dibuat untuk memenuhi syarat dalam penilaian Ujian Akhir Semester bagi mahasiswa Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Dalam penyelesaian paper ini penulis mendapatkan bimbingan dari dosen. Maka penulis mengucapkan terimakasih kepada Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. selaku dosen penanggungjawab matakuliah ekonomi sumber daya hutan, yang telah mengajarkan materi dengan sangat baik kemudian hasilnya dituangkan dalam paper ini.

Penulis sadar bahwa penulisan paper ini masih jauh dari kata sempurna, baik dari segi teknik maupun materi. Oleh sebab itu, penulis mengaharapkan kritik dan saran dari para pembaca demi penyempurnaan paper matakuliah ekonomi sumber daya hutan ini. Akhir kata semoga paper matakuliah ekonomi sumber daya hutan ini bermanfaat bagi kita semua.

 




Medan, 5 Mei 2021


 

 Penulis         






DAFTAR ISI

                                                                                                    Halaman

KATA PENGANTAR .......................................................................................................................... i

DAFTAR ISI ....................................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

         1.1 Latar Belakang....................................................................................................................... 1

         1.2 Rumusan Masalah.................................................................................................................. 2

         1.3 Tujuan Penulisan.................................................................................................................... 2

BAB II ISI

         2.1 Karakteristik Hutan Mangrove.............................................................................................. 3

         2.2 Potensi Ekologi Hutan Mangrove......................................................................................... 3

         2.3 Potensi Ekonomi Hutan Mangrove....................................................................................... 4

         2.4 Identifikasi Manfaat Ekosistem Hutan Mangrove................................................................ 5

BAB III PENUTUP

         3.1 Kesimpulan........................................................................................................................... 9

         3.2 Saran..................................................................................................................................... 9

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................... 10






BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Hutan mangrove Jenu Tuban merupakan pusat hutan mangrove wilayah pesisir dan laut di Kabupaten Tuban. tempat ini mulai ada sejak tahun 1997 oleh Kelompok Tani di Desa Jenu, Kabupaten Tuban yang kemudian ternaungi dalam Forum Komunikasi Peduli Lingkungan Pesisir Tuban. Hutan mangrove Jenu Tuban juga memiliki tempat pembudidayaan tanaman Mangrove. Sehingga, tempat ini juga layak dipergunakan sebagai sarana praktek belajar untuk mempelajari, memahami, dan menyanyangi lingkungan hidup disekitar kita. Wilayah pesisir pantai desa Jenu memiliki potensi sumberdaya alam yang cukup potensial untuk dikembangkan dalam menunjang taraf kehidupan masyarakat setempat, sehingga dapat membantu meningkatkan pendapatan masyarakat yang berada di desa tersebut. Masyarakat desa Jenu berakses memanfaatkan potensi sumberdaya alam yang ada di laut (Suwarsih, 2013).

Hutan mangrove merupakan sumberdaya alam yang penting di lingkungan pesisir, dan memiliki tiga fungsi utama yaitu fungsi fisik, biologis, dan ekonomis. Sumberdaya alam merupakan aset penting suatu negara dalam melaksanakan pembangunan, khususnya pembangunan di sektor ekonomi. Selain dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, sumberdaya alam juga memberikan kontribusi yang cukup besar bagi kesejahteraan suatu bangsa (wealth of nation). Oleh karena itu, pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam secara optimal, lestari dan berwawasan lingkungan sudah semestinya dilakukan. Mengingat masih rendahnya penghargaan masyarakat lokal terhadap potensi hutan mangrove sebagai aset ekonomi, maka perlu dilakukan penilaian atau evaluasi ekonomi terhadap besarnya manfaat dan fungsi hutan mangrove (Winata dan Yuliana, 2016).

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kerusakan hutan mangrove secara tak terkendali di masa lalu. Akan tetapi, dua penyebab utamanya adalah karena ketidak-tahuan kita tentang arti dan peran penting mangrove bagi kehidupan termasuk manusia, dan kurangnya penguasaan kita tentang teknik-teknik pengelolaan mangrove yang ramah lingkungan. Oleh karena itu peremajaan kembali hutan mangrove sangat penting untuk mengembalikan fungsi ekologi dan ekonomisnya, dengan metode yang digunakan adalah mengadakan pendampingan langsung kepada masyarakat yang bertujuan untuk memberikan pengenalan awal kepada masyarakat akan arti dan fungsi hutan mangrove, sekaligus menjelaskan teknis pelaksanaan penanaman dengan menggunakan bibit persemaian. Aktifitas pemanfaatan potensi sumberdaya laut seperti mencari kerang (bameti) untuk memenuhi kebutuhan gizi dari sumberdaya laut setiap harinya dan aktivitas penangkapan ikan (Setyawan dan Kusumo, 2006).

Ekosistem hutan mangrove di Indonesia saat ini dalam keadaan kritis karena terdapat kerusakan sekitar 68%, atau 5,9 juta hektar dari luas keseluruhan 8,6 juta hektar. Untuk memperbaiki kondisi ini, diperlukan perubahan sikap dan persepsi. Karena berfungsi sebagai menjaga daratan dari geusan ombak dan tempat hidup dan berbiaknya biota laut, kawasan hutan mangrove juga berpotensi dikembangkannya daerah wisata alam. Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh spesies pohon mangrove seperti bakau, api-api, tanjung dan bogem sehingga bermanfaat bagi biota laut yang mampu tumbuh dan berkembang pada derah yang pasang surut pantai berlumpur. Dampak berkurangnya hutan mangrove akibat karena aktifitas manusia (faktor antropogenik) yaitu berupa kegiatan tebang habis pada ekosistem hutan mangrove mengakibatkan berubahnya komposisi tumbuhan mangrove (Majid et al., 2016).

1.2 Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam penulisan ini adalah sebagai berikut.

      1. Bagaimana karakteristik hutan mangrove?
      2. Bagaimana potensi ekologi hutan mangrove?
      3. Bagaimana potensi ekonomi hutan mangrove?
      4. Bagaimana identifikasi manfaat ekosistem  hutan mangrove?

1.3 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dalam penulisan ini adalah sebagai berikut.

1.     Untuk mengetahui karakteristik hutan mangrove

2.     Untuk mengetahui potensi ekologi hutan mangrove

3.     Untuk mengetahui potensi ekonomi hutan mangrove

4.   Untuk mengetahui identifikasi manfaat ekosistem hutan mangrove






BAB II

ISI




2.1 Karakteristik Hutan Mangrove

Mangrove ialah suatu tempat yang bergerak karena adanya pemebentukan tanah lumpur serta daratan yang terjadi terus menerus, sehingga perlahan-lahan berubah menjadi semi daratan. Berbagai definisi mangrove sebenarnya mempunyai arti yang sama yakni formasi hutan daerah tropika serta sub tropika yang ada di pantai rendah dan tenang, berlumpur, dan memperoleh pengaruh dari pasang surutnya air laut. Hutan mangrove pun merupakan mata rantai yang sangat penting dalam pemeliharaan keseimbangan siklus biologi dari suatu perairan. Ekosistem mangrove ialah suatu sistem di alam sebagai tempat berlangsungnya kehidupan yang merefleksikan hubungan timbal balikantara makhluk hidup dan lingkungannya, serta antara makhluk hidup itu sendiri berada di wilayah pesisir, terpengaruh oleh pasang surut air laut, didominasi spesies pohon atau semak yang khas (Rahim dan Dewi, 2017).

Mangrove adalah suatu komunitas tumbuhan atau suatu individu jenis tumbuhan yang membentuk komunitas di daerah pasang surut , hutan mangrive atau sering disebut hutan bakau merupakan sebagian wilayah ekosistem pantai yang mempunyai karakter unik dan kahas, dan memiliki potensi kekayaan hayati. Mangrove adalah vegetasi hutan yang tumbuh diantara garis pasang surut, sehingga hutan mangrove dinamakan juga hutan pasang. Hutan mangrove dapat tumbuh pada pantai karang, yaitu pada karang koral mati yang diatasnya ditumbuhi selapis tipis pasir atau ditumbuhi lumpur atau pantai berlumpur. Hutan mangrove terdapat di daerah pantai yang terus menerus atau berurutan terendam dalam air laut dan dipengaruhi pasang surut, tanahnya dari lumpur dan pasir (Narka et al., 2018).

           Hutan mangrove secara umum merupakan komunitas vegetasi pantai tropis, yang didominasi oleh beberapa jenis pohon yang mampu tumbuh dan berkembang di daerah pasang surut pantai berlumpur. Perbedaannya dengan hutan lain adalah keberadaan flora dan fauna yang spesifik, dengan keanekaragaman jenis yang tinggi. Mangrove adalah vegetasi hutan yang tumbuh diantara garis pasang surut, namun juga bisa tumbuh pada pantai karang, juga pada dataran koral mati yang diatasnya ditimbuni sebuah lapis tipis pasir, lumpur, maupun pantai berlumpur. Ekosistem mangrove adalah suatu sistem yang terdiri dari lingkungan biotik dan abiotik yang saling berinteraksi di dalama suatu habitat mangrove. Ekosistem hutan mangrove bersifat kompleks dan dinamis, namun labil. Dikatakan kompleks karena ekosistemnya dipenuhi oleh vegetasi mangrove dan merupakan habitat satwa dan berbagai biota perairan (Bengen dan Dietrich, 2000).

2.2 Potensi Ekologi Hutan Mangrove

Daerah ini memiliki pantai yang landai yang ditumbuhi oleh hutan mangrove dengan luas 3,08 ha yang dibatasi oleh aliran sungai jenu. Kawasan mangrove yang menjadi daerah penelitian, tempatnya terpisah dari pemukiman penduduk, namun penduduk setempat sering memanfaatkannya di sekitar maupun di dalam hutan mangrove untuk memperoleh sumberdaya yang ekonomis seperti menangkap “soa-soa”, “kusu”, ikan, kepiting juga mencari kayu bakar dan kerang. Berdasarkan hasil inventarisasi, tercatat lima (5) jenis mangrove: Avicennia alba, Bruguiera gimnorhiza, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata dan Sonneratia alba. Famili Rhizophoraceae memiliki jumlah terbesar yang terdiri dari 2 genus dan 3 spesies. Hal ini didukung oleh tingkat kemampuan adaptasi morfologi dan anatomi dari Famili Rhizophoraceae yang lebih baik. Sedangkan famili-famili lainnya seperti Sonneratiaceae dan Verbenaceae hanya dengan satu genus saja. Spesies mangrove di lokasi penelitian, paling banyak didominasi oleh Sonneratia alba.

Secara umum, hutan mangrove desa Jenu mempunyai fungsi dan manfaat sebagai berikut :

1.               Peredam gelombang dan angin laut, penahan dan perangkap sedimen.

2.         Daerah asuhan (nursery grounds), daerah mencari makan (feeding grounds), daerah pemijahan (spawning grounds) bagi berbagai jenis ikan, kepiting, kerang dan biota laut lainnya.

3.               Penghasil kayu bakar, pemasok larva ikan, kepiting, kerang dan biota laut lainnya.

4.      Tempat hidup dan berkembang biak ikan, kepiting, kerang dan satwa liar lainnya yang di antaranya endemik.

5.               Tempat praktek kerja lapangan dan penelitian bagi mahasiswa maupun pihak yang terkait.


Fungsi dan manfaat dari ekosistem mangrove ini, merupakan mata rantai utama dalam menopang keseimbangan ekosistem perairan pantai daerah ini. Pada kawasan hutan mangrove di desa Jenu, terlihat bahwa masyarakat sekitar memanfaatkan kawasan tersebut dengan berbagai macam bentuk pemanfaatan, baik pemanfaatan yang berdampak positif maupun yang negatif. Berdasarkan survei dan wawancara dengan para responden ditemukan bahwa bentuk-bentuk pemanfaatan di dalam maupun disekitar hutan mangrove selain dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar juga dimanfaatkan oleh masyarakat yang berada di dekat desa Jenu. Berdasarkan hasil wawancara, maka dapat diidentifikasi bentuk-bentuk pemanfaatan kawasan hutan mangrove, yaitu; (1) aktivitas penangkapan, (2) aktivitas pengumpulan kerang (bameti), (3) aktivitas pembuangan sampah.

Pada kawasan hutan mangrove di desa Jenu, masyarakat tidak memanfaatkan kawasan tersebut sebagai objek wisata. Hal ini disebabkan kondisi lingkungan kawasan hutan mangrove yang relatif tidak baik untuk mendukung objek wisata dan kurang adanya peran pemerintah terhadap pengelolaan dan pemanfaatan kawasan mangrove tersebut. Identifikasi manfaat dan fungsi ekosistem hutan mangrove di desa Jenu, pada saat ini dikelompokkan ke dalam 4 (empat) kategori manfaat, yaitu: manfaat langsung, manfaat tidak langsung, manfaat pilihan, dan manfaat eksistensi.

2.3 Potensi Ekonomi Hutan Mangrove

Secara ekonomi, hutan mangrove dapat dimanfaatkan kayunya secara lestari untuk bahan bangunan, arang (charcoal), dan bahan baku kertas (pulp). Selain itu, hutan mangrove juga dapat dimanfaatkan untuk industri peternakan lebah madu, ekoturisme dan kegiatan ekonomi lainnya. Sayangnya, persepsi dan cara-cara kita memanfaatkan hutan mangrove selama PJP I cenderung bersifat ekstraktif dan tidak mengindahkan azas-azas kelestariannya. Konversi hutan mangrove menjadi kawasan pertambakan (daerah baru, pangkep dan lagego), kawasan pemukiman (real estate), kawasan industri (seperti industri KIMA) serta peruntukan lainnya secara tak terkendali. Padahal banyak teknik yang memungkinkan berbagai kegiatan pembangunan tersebut dapat berdampingan secara harmonis (co-exist) dengan hutan mangrove.

Kuantifikasi seluruh manfaat dan fungsi ke dalam nilai uang (rupiah)

a.      Nilai Pasar Pendekatan nilai pasar digunakan untuk komponen sumberdaya yang langsung diperdagangkan, misalnya kayu mangrove dan ikan. Pendekatan ini sebagian besar digunakan untuk mengetahui nilai uang bagi manfaat langsung dari ekosistem mangrove.

b.     Harga Tidak Langsung Pendekatan ini digunakan apabila mekanisme pasar gagal memberikan nilai suatu komponen sumberdaya, karena komponen tersebut belum memiliki pasar. Pendekatan ini digunakan untuk manfaat tidak langsung misalnya menilai manfaat fisik (peredam gelombang) dan manfaat biologis (penyedia pakan).

c.      Contingent Valuation Method (CVM) Pendekatan ini digunakan untuk mengkuantifikasikan manfaat pilihan (keberadaan) dari suatu komponen sumberdaya, cara ini dipakai untuk memperoleh nilai eksistensi hutan mangrove dari responden terpilih. Menurut Fauzi (2002), tahap terakhir dari CVM adalah dengan mengagregatkan rataan tersebut. Proses ini melibatkan konversi rataan sampel kerataan populasi secara keseluruhan, salah satunya adalah dengan mengalikan rataan sampel dengan jumlah rumah tangga dalam populasi (N), dalam hal ini untuk populasi desa Jenu.

d.     Nilai Ekonomi Total (NET) Pendekatan ini merupakan penjumlahan dari nilai pemanfaatan dan nilai bukan pemanfaatan hutan mangrove yang telah diidentifikasi dan dikuantifikasikan. Nilai Ekonomi Total diformulasikan sebagai berikut :

NET = ML + MTL + MP + ME

Dimana : ML = nilai manfaat langsung

MTL = nilai manfaat tidak langsung

MP = nilai manfaat pilihan

ME = nilai manfaat eksistensi.

Nilai Ekonomi Total (NET) hutan mangrove kawasan Jenu dengan luas 3,08 ha pada saat ini adalah sebesar Rp 24.887.887,50/tahun. Nilai tersebut terdiri atas nilai manfaat langsung Rp 11.299.500,00/tahun, manfaat tidak langsung Rp 9.098.077,50/tahun, manfaat eksistensi Rp 4.083.750,00/tahun, dan manfaat pilihan Rp 406.560,00/tahun.

2.4 Identifikasi Manfaat Ekosistem Hutan Mangrove

        Manfaat ekosistem mangrove di kawasan Jenu terdiri atas manfaat langsung berupa hasil hutan (kayu bakar), manfaat satwa (“soa-soa” atau biawak, “kusu”), dan penangkapan ikan (kepiting kerang dan ikan); manfaat tak langsung berupa breakwater dan tempat penyedia pakan; manfaat pilihan berupa nilai keragaman hayati ; dan manfaat eksistensi yaitu nilai yang di berikan oleh masyarakat di lokasi penelitian. Kawasan hutan mangrove Desa Jenu memiliki manfaat langsung dan tak langsung serta cukup berperan bagi masyarakat lokal. Kawasan tersebut hendaknya dimanfaatkan secara berkelanjutan sesuai fungsi, manfaat, dan keberadaan ekosistem. Dengan demikian diperlukan peran serta masyarakat dan Pemerintah Desa dalam pengelolaan dan pemanfaatan hutan mangrove agar memberikan manfaat yang lebih maksimal bagi masyarakat.

a.      Manfaat Langsung (ML)

Manfaat langsung adalah nilai yang dihasilkan dari pemanfaatan langsung dari hutan mangrove seperti menangkap ikan, kayu bakar dan wisata (Fauzi, 2002).

ML = ML1 + ML2 + ML3 + …+ MLn (dimasukkan kedalam nilai Rupiah) Dimana :

ML = Manfaat Langsung

ML1 = Manfaat Langsung soa-soa

ML2 = Manfaat Langsung kusu

ML3 = Manfaat Langsung kayu bakar

ML4 = Manfaat Langsung ikan

ML5 = Manfaat Langsung kerang

ML6 = Manfaat Langsung kepiting

b.     Manfaat Tidak Langsung (MTL)

Manfaat tidak langsung adalah nilai yang dirasakan secara tidak langsung terhadap barang dan jasa yang dihasilkan sumberdaya dan lingkungan (Fauzi, 2002). Manfaat tidak langsung dari hutan mangrove diperoleh dari suatu ekosistem secara tidak langsung seperti penahan abrasi pantai (Fahrudin, 1996); dan penyedia bahan organik bagi biota-biota yang hidup didalamnya (Meilani, 1996).

MTL = MTL1 + MTL2 + ... .+ MTLn (dimasukkan kedalam nilai Rupiah)

Dimana:

MTL = Manfaat Tidak Langsung

MTL1 = Manfaat Tidak Langsung sebagai peredam gelombang (breakwater). MTL2 = Manfaat Tidak Langsung sebagai penyedia bahan pakan alami untuk biota yang hidup di dalam hutan mangrove.

c.      Manfaat Pilihan

Manfaat pilihan adalah suatu nilai yang menunjukan kesediaan seseorang untuk membayar guna melestarikan ekosistem mangrove bagi pemanfaatan di masa depan, (Fahrudin, 1996). Nilai ini didekati dengan mengacu pada nilai keanekaragaman hayati (biodiversity) hutan mangrove di Indonesia, yaitu US$ 1.500/km2/tahun atau US$15/ha/tahun (Ruitenbeek, 1991 dalam Fahrudin 1996). MP = MPb = US$ 15 per ha x Luas hutan mangrove (dimasukkan kedalam nilai Rupiah).

d.       Manfaat Eksistensi (ME)

Manfaat eksistensi adalah manfaat yang dirasakan oleh masyarakat dari keberadaan ekosistem yang diteliti setelah manfaat lainnya (manfaat langsung, tidak langsung dan manfaat pilihan). Manfaat ini adalah nilai ekonomis keberadaan (fisik) dari ekosistem yang diteliti.

Formulasinya adalah sebagai berikut:

n ME = ∑ (MEi)/ n i = 1 (dimasukkan kedalam nilai Rupiah)

Dimana :

ME = Manfaat Eksistensi

MEi = manfaat Eksistensi dari responden ke-1 sampai ke 28 n = Jumlah responden (28 orang).






BAB III
PENUTUP





3.1 Kesimpulan

1.    Hutan Mangrove merupakan sumberdaya alam yang penting di lingkungan pesisir, dan memiliki tiga fungsi utama yaitu fungsi fisik, biologis dan ekonomis.

2.    Mangrove adalah vegetasi hutan yang tumbuh diantara garis pasang surut, namun juga bisa tumbuh pada pantai karang, juga pada dataran koral mati yang diatasnya ditimbuni sebuah lapis tipis pasir, lumpur, maupun pantai berlumpur.

3.   Kawasan mangrove yang menjadi daerah penelitian, tempatnya terpisah dari pemukiman penduduk, namun penduduk setempat sering memanfaatkannya di sekitar maupun di dalam hutan mangrove untuk memperoleh sumberdaya yang ekonomis seperti menangkap “soa-soa”, “kusu”, ikan, kepiting juga mencari kayu bakar dan kerang.

4.   Secara ekonomi, hutan mangrove dapat dimanfaatkan kayunya secara lestari untuk bahan bangunan, arang (charcoal), dan bahan baku kertas (pulp), selain itu, hutan mangrove juga dapat dimanfaatkan untuk industri peternakan lebah madu, ekoturisme dan kegiatan ekonomi lainnya.

5.     Identifikasi Manfaat Mangrove adalah Manfaat Langsung (ML), Manfaat Tidak Langsung (MTL), Manfaat Pilihan dan Manfaat Eksistensi (ME).

3.2 Saran

Sebaiknya kelestarian hutan mangrove tetap terjaga meskipun telah dimanfaatkan berulang kali, baik itu untuk kepentingan masyarakat maupun kepentingan produksi.







DAFTAR PUSTAKA


Bengen dan Dietrich G. 2000. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Bogor Institute of Agriculture.

Budiadi, Handojo HN, Suryo H dan Enggal P. 2016. Strategi Pemilihan Jenis Tanaman untuk Mendukung Rehabilitasi Pesisir Berdasarkan Karakteristik Fisik Makro di Muara Sungai Progo. Jurnal Tanaman, 23 (3) : 349-359.

Fahrudin A. 1996. Analisis Ekonomi Pengelolaan Pesisir Kabupaten Subang, Jawa Barat. Tesis. Sekolah Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

Fauzi A. 2002. Valuasi Ekonomi Sumber Daya Pesisir dan Lautan. Makalah pada Pelatihan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Semarang: Universitas Diponegoro

Gumilar I. 2012. Partisipasi Masyarakat Pesisir Dalam Pengelolaan Ekosistem Hutan Mangrove Berkelanjutan Di Kabupaten Indramayu. Jurnal Akuatika, 3 (2) : 198-211.

Majid I, Mimien HI, Fachrur R, Istamar S. 2016. Konservasi Hutan Mangrove di Pesisiran Pantai Kota Ternate Terintegrasi dengan Kurikulum Sekolah. Jurnal Bioedukasi, 4 (2) : 488-496.

Narka MSD, Korja IN, Sitti R. 2018. Kerusakan Hutan Mangrove di Desa Dolago Kecamatan Parigi Selatan Kabupaten Parigi Moutong. Jurnal Warta Rimba, 6 (1) : 10- 15.

Rahim S dan Dewi WKB. 2017. Hutan Mangrove dan Pemanfaatannya. Budi Utama. Yogyakarta.

Ritohardoyo S dan Galuh BA. 2013. Arahan Kebijakan Pengelolaan Hutan Mangrove Kasus Pesisr Kecamatan Teluk Pakedal, Kabupaten Kuburaya, Provinsi Kalimantan Barat. Jurnal Geografi. 3(2) 43-57.

Setyawan AD dan Kusumo W. 2006. Permasalahan Konservasi Ekosistem Mangrove di Pesisir Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Jurnal Biodiversitas, 7 (2) : 159-163.

Suwarsih. 2013. Manfaat Hutan Magrove Jenu Tuban Dari Sisi Penilaian Ekonomi. Prodi Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas PGRI Ronggolawe, Tuban. Jurnal Ekologia, 13 (2) : 8-16.

Winata, Adi dan Yuliana E. 2016. Tingkat Keberhasilan Penanaman Pohon Mangrove (Kasus: Pesisir Pulau Untung Jawa Kepulauan Seribu. 17 (1) : 29-39.






Komentar

  1. Blognya sangat bagus untuk pengembangan hutan kedepan nya dan menaikkan prekonomian bangsa
    Terima kasih bang :)

    BalasHapus
  2. Sangat baguss....Terimakasih atas pengetahuan barunya

    BalasHapus
  3. Thank you. Info yang sangat bagus..

    BalasHapus
  4. Sungguh sangat mengedukasi dan memperluas wawasan. Terimakasih banyak........

    BalasHapus
  5. Terima kasih atas informasinya

    BalasHapus
  6. Blog yang bagus saya jadi mendapat pengetahuan baru setelah membaca nya

    BalasHapus
  7. Terimakasih banyak atas informasinya mengenai potensi nilai ekonomi yang bisa kita peroleh dari hutan mangrove ini

    BalasHapus
  8. Wah, ternyata mangrove dapat dimanfaatkan secara ekonomi ya. .. Keren

    BalasHapus
  9. Thanks for your information brada, sukses wak πŸ€™πŸ€™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you brada πŸ€™πŸ»πŸ€™πŸ»

      Hapus
  10. Sangat informatif bagi pembaca πŸ”₯

    BalasHapus
  11. Blognya sangat bermanfaat sekaliπŸ‘

    BalasHapus
  12. Izin bertanya, ini kan ekowisatanya ada sejak tahun 1997, perubahan2 apa saja yg sudah terjadi dari tahun ke tahun hingga saat ini?
    Klo boleh tau, itu jenis mangrove apa yg mendominasi di ekowisata tsb?
    Dan knp bisa jenis itu yg mendominasi dikawasan tsb?

    Thanks min.
    Mntp bgt blognya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perkembangan Mangrove Jenu Tuban
      Sejarah singkat berdirinya MCT (Mangrove Center/Jenu Tuban) berawal dari keresahan Ali Mansur, selaku ketua yayasan, melihat pesisir pantai Tuban mulai tahun 1970 terkikis abrasi. Sedikit demi sedikit air laut mendekat ke desa, sampai pada akhirnya 1974 rob besar menghantam desanya. Jarak rumah yang sekitar 300 meter ke pantai hanya tinggal beberapa meter saja. Kejadian itu menggugah kesadaran Ali Mansur menapaktilasi jejak banjir dengan menanami mangrove. Tidak berhenti disitu, Ali Mansur juga berusaha membentuk organisasi baru berbentuk Kelompok Tani Wana Bahari pada tahun 1997. Pada tahun 2000, organisasi ini berkembang menjadi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Forum Komunikasi Lingkungan Pesisir Pantai Tuban, dan 2005 organisasi berkembang menjadi Yayasan MCT. Karena tempatnya strategis, tempat ini sering sekali digunakan untuk outbond, berkemah maupun penelitian. Ada anak Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pendidikan (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), hingga mahasiswa belajar di sini. Mereka datang dari dalam maupun luar kota. Menariknya lagi, di MCT juga ada sebuah kebun binatang mini dengan koleksi satwanya yang terdiri dari ular phyton, merak, monyet, kalkun, ayam mutiara, burung jalak dan lainnya. MCT secara administratif, kawasan ini berada di Desa Jenu, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Untuk berkunjung ke tempat ini, medannya tidak sulit, aksesnya mudah dijangkau.

      Mangrove yang mendominasi dan tumbuhan lain nya
      Ada deretan pohon Api-api (Avicennia marina), Cemara Laut, Waru dan sebagainya di sekitar pantai, sehingga terlihat hijau dan sejuk. Tentu, ini akan memanjakan setiap mata yang memandang.

      Alasan bisa mendominasi karena mangrove ini banyak dimanfaatkan untuk tempat budidaya kepiting di sepanjang pohon Api-api (Avicennia marina).
      Akar napas api-api yang padat, rapat dan banyak sangat efektif untuk menangkap dan menahan lumpur serta berbagai sampah yang terhanyut di perairan. Jalinan perakaran ini juga menjadi tempat mencari makanan bagi aneka jenis kepiting bakau, siput dan teritip.

      Terimakasih, semoga jawaban saya cukup jelas

      Salam pembaca πŸ™πŸ»

      Hapus
  13. keren kali gopp, sori ya ada urusan aku kampret kali memang. kadang bingung juga aku - kata acinan

    BalasHapus
  14. Kalau boleh tau Kabupaten tuban di provinsi mana ya? Ada view hutan mangrove disana gak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kawasan Mangrove Jenu Tuban ini berada di Desa Jenu, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Untuk berkunjung ke tempat ini, medannya tidak sulit, aksesnya mudah dijangkau. Tidak jauh dari jalan raya Pantura, Jl. Raya Tuban – Semarang KM 9, jadi mobil maupun bus bisa masuk. Apabila menempuh perjalanan dari arah barat, maka pintu gerbang wisata ini berada di sisi jalan sebelah kiri.

      Untuk view Mangrove silahkan kakak cek di https://gpswisataindonesia.info/mangrove-center-tuban-jawa-timur-video/

      Dijelaskan juga tentang keindahan Mangrove Center Tuban disana

      Terimakasih banyak kak πŸ‘‹πŸ»

      Hapus
  15. Terimah kasih infonyaπŸ‘πŸ‘

    BalasHapus
  16. Sangat mengedukasi dan banyak informasi yang didapat setelah membacanya . Sukses selalu πŸ™Œ

    BalasHapus
  17. Sangat membantu, terimakasih atas informasinya, semoga sukses selaluπŸ‘Œ

    BalasHapus
  18. Sebenarnya gini, kenapa populasi pohon di bumi semakin berkurang?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dimulai dari kesadaran manusia dan keserakahan manusia terhadap hasil alam di bumi. Pohon adalah salah satunya, dimana pohon memberikan sejuta manfaat bagi keberlangsungan makhluk hidup. Maka dari banyaknya manfaat tersebut, tindakan eksploitasi pun kian maraknya terjadi. Terus menerus sepanjang waktu. Keperluan manusia pun tidak ada cukupnya, sehingga tak menyisakan habitat bagi kehidupan satwa di alam. Jika mau bumi lestari, maka rawatlah isi nya serta pohon lah kuncinya dan jangan serakah :)

      Hapus
  19. Informasi nya sangat bermanfaat,jadi makin terbuka wawasan setelah membaca. Sukses ya bang πŸ‘ŒπŸ‘ŒπŸ‘Œ

    BalasHapus
  20. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  21. Informasinya bagus, sangat bermanfaat untuk kalangan umum.. sukses terus kedepannya

    BalasHapus

Posting Komentar